Monday, January 07, 2008

Visit Indonesia Year 2008 dan Desa Wisata

Visit Indonesia Year 2008 perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin, untuk meningkatkan perolehan devisa, untuk mengembalikan citra Indonesia di dunia internasional (pasca bom Bali), setidaknya sebagai greget untuk tetap 'memanaskan mesin' bidang pariwisata. Pada sisi lain momentum Visit Indonesia Year 2008 juga dapat dimanfaatkan untuk penyadaran akan pentingnya menghargai kekayaan budaya, menumbuhkan ekonomi lokal, dan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Berbicara mengenai manfaat yang terakhir itu ada inovasi yang layak dicatat, yaitu tentang pengembangan desa wisata. Sebagai salah satu contoh ialah pengembangan Desa Wisata Candirejo. Berkaitan dengan Visit Indonesia Year 2008 ini ada gunanya meninjau konsep pengembangan alternatif di desa yang tak jauh dari Candi Borobudur ini.

Pengembangan Desa Wisata Candirejo ini sebetulnya motif dasarnya adalah dalam rangka konservasi sumber daya air di kawasan sekitar. Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam kelompok pecinta alam Patrapala dari Yogyakarta disponsori oleh donor dari Jepang untuk melakukan kajian konservasi air, melalui pelestarian peruntukan lahan perdesaan, agar tidak jadi korban ekspansi pertumbuhan fisik sehubungan kegiatan pariwisata sekitar Candi Borobudur. Kajian ini berkembang dengan mengaitkan misi lingkungan dengan pengembangan ekonomi lokal. Ini mengingat akan mustahil mengonservasi kawasan tanpa memberikan manfaat ekonomi warga setempat.

Melalui proses pendampingan yang partisipatif, melibatkan warga dan stakeholders, secara bertahap terbentuklah konsep Pengembangan Desa Wisata Candirejo itu. Inti dari konsep desa wisata ini adalah menawarkan kehidupan perdesaan asli desa setempat (Jawa Tengah). Rumah-rumah desainnya dipertahankan apa adanya. Rumah desa Jawa, yang kadang ada pendopo kecil, bale-bale tempat duduk di depan rumah, dengan pelataran yang diteduhi pohon rambutan dan liainnya. Di bagian belakang rumah ada kandang ternak, atau tempat penyimpan kayu bakar dan lainnya.

Hubungan antar rumah juga dibiarkan apa adanya, hanya jalan-jalan kecil yang ada dirapihkan diperkeras. Ada halaman yang cukup luas milik desa dijadikan arena penyelenggaraan pertunjukan tarian setempat dan sajian hiburan lainnya. Biasanya pertunjukn malam menggunakan penerangan obor.

Atraksi wisata yang ditawarkan adalah pengalaman 'hidup' di desa khas Jawa Tengah itu, sehingga wisatawan dipersilahkan tinggal menginap di rumah-rumah penduduk. Tentu saja untuk akomodasi ini, rumah-rumah yang kamarnya dianggap layak menerima wisatawan diberi bantuan untuk sedikit merenovasi, membuat sumur, kamar mandi dan mendapat penerangan listrik. Ada puluhan rumah yang berfungsi sebagai semi homestay ini.

Untuk menghidupkan suasana dan membuat wisatawan betah tinggal beberapa hari, pengelola yang sesungguhnya warga dengan fasilitator dari Patrapala itu mengadakan berbagai acara. Agenda acara yang dikembangkan, antara lain perjalanan ke sekitar kawasan, mulai dari mendaki bukit, menikmati pemandangan matahari terbit, atau terbenam, menyaksikan pagelaran kesenian, tarian sebagai tontonan dan yang interaktif dengan pengunjung, upacara-upacara adat disesuaikan dengan kalender setempat, misalnya memperingati tahun baru Jawa, upacara menyongsong panen, penikahan, khitanan, dst.

Saya sendiri ke Candirejo beberapa tahun lalu dalam rangka menjadi pembicara suatu seminar yang diselenggarakan di ruang depan satu rumah yang tidak besar, berdinding bilik bambu. Sejuk tanpa AC (sehingga aman bagi ozon), karena dari jendela dan pintunya berembus angin dari halaman sekitar yang diteduhi pohon rambutan dan sawo itu.

Lokasi tujuan wilasata alternatif ini setahu saya berkembang juga di beberapa daerah, melengkapi obyek dan atraksi wisata yang konvensional.

Sekali lagi momentum Visi Indonesia Year 2008 ini layak untuk dimanfaatkan. Suksesnya penyelenggaraan Global Climate Change Summit yang disponsori UNDP di Bali menjelang akhir tahun 2007 kemarin tentunya berdampak positip bagi 'kepercayaan' wisatawan dunia ke Bali dan daerah tujuan wisata (DTW) lainnya di nusantara. [Risfan Munir pernah menyusun Rencana Induk Pengembangan Pariwisata untuk beberapa propinsi dan daerah tujuan wisata (DTW) di Indonesia, lihat juga blog Urbanis nya]

No comments: