Saturday, October 28, 2017

Dana Desa dan Penanggulangan Kemiskinan

Sekarang ini sering ada pertanyaan: Anggaran sdh banyak diglontorkan. Hasilnya apa (outcome, impact)? Contohnya menyangkut efektivitas Dana Desa.

Dana Desa (DD) belum genap 3 tahun diluncurkan, sudah ditanya outcome jangka psnjang (impact) nya terhadap pengurangan kemiskinan.

Ino permasalahan Monitoring n Evaluation (MonEv). 

Sementara pelaksana program dianggap cuma bisa laporkan: utilisasi input, kegiatan, output.

Kebutuhan perintahan yang mandatnya 5 tahun, memang wajar kalau pada tahun ke-3 sudah harus bisa mrnunjukkan hasilnya.

Akibatnya para ahli MONEV dengan panik harus menetapkan Outcome, Benefit, Impact.

RANCANGAN KEBIJAKAN

Salah satu masalah klasik dalam perumusan policy, planning dan budgeting.

Policy seperti Anggaran Pendidikan 20 pct dari APBN. Juga ketetapan 10pct Dana Dess (UU Desa) keduanya adalah contoh usulan Dewan yang normatf, tanpa memperhitungkan kesiapan eksekutif.

Prosesnya bukan dari Kementeran/Lembaga (K/L) punya rencana, lalu budget disepakati membiayainya. Tapi ujug2 Kementerian mendapat windfall budget 20pct dr total APBN. Baru setrlah itu merekarancang "bgmn caranya bisa menyerapnya?!".

Kasus DD juga begitu. Tiba2 Pemdes harus bisa mengelola dana DD. Siap gak siap terima Rp ratus juta. Bahkan dengan tata cara, aturan yang banyak (kadang belum sinkron satu dengan lainnya).

Kesimpulan: harus disadari perlunya waktu persiapan. Sebelum suatu policy dianggap siap untuk dilaksanakan secara penuh, apslagi diharapkan dampaknya. (Risfan Munir)

Risfan Munir
PRO.Mandiri

Monday, April 17, 2017

Urban, Regional, Rural GROWTH Engineering

Engineering pertumbuhan wilayah merencans: Bagaimana wilayah yg belum berkembang, stagnant, terbelakang, menjadi berkembang, maju, mandiri, sustainable.

Konsep-konsep yang melekat bagi saya: U/Reg Growth Theory, U/Reg Geography n Economy, Konsep Pengembangan Wilayah, dan lainnya.

Contoh sasaran RPJMN: mengentaskan setidaknya 5000 desa Tertinggal, dan menjadikan 2000 desa Mandiri.

Juga untuk kota dan kawasan. Contoh lain saat ini planners di Kemendes PDTT juga berupaya menumbuhkan Kawasan Perbatasan.

Di perkotaan bagaimana menumbuhkan kawasan (BWK) yang stagnant agar berkembang, mungkin juga menumbuhkan "newtown in town".

Untuk permukiman kampung kota. GROWTH ENGINEs nya ya TriDaya (daya Manusia + daya Ekonomi + daya Lingkungan).

Fasilitasi penguatan human/social capitalnya, economic/financial capital, physical capitalnya membentuk lingkungan/komunitas kota yg "Tumbuh, Inklusif, Berkelanjutan".

P2KP. P2B merupakan bukti dan menjadi saksi implementasinya. (Risfan Munir).

Urban n Regional Growth Engineering


Contoh, Ir. Amran, Walikota Sawahlunto pasca tutupnya tambang batubara. Kota Sawahlunto nyaris jadi ghost-town ditinggal warganya.

Tapi Sang Walikota bersama warga berhasil melakukan turn-around. Banting stir dari kota tambang menjadi kota wisata.

Bangunan2, gua tambang diubah menjadi atraksi wisata. Komunitas warga eks buruh tambang berpartisipasi membentuk kelompok2 seni khas daerah asal masing2 menjadi atraksi menarik. 
Desa2 produsen tenun songket Silungkang ditingkat kualitas produksinya.

Sumber kehidupan kota yaitu pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja meningkat. 

Kota Sawahlunto hidup kembali berkat *UnR.Growth Engineering*

Thursday, January 05, 2017

BUMDesa, Koperasi dan UMKM Desa

PEMBANGUNAN EKONOMI DESA utamanya adalah pemberdayaan pelaku ekonomi desa, yang mayoritas adalah petani, nelayan, perajin, atau usaha mikro dan kecil.

BUMDesa merupakan salah satu lembaga, sesuai UU no.6 Th 2014 tentang Desa, yang digunakan unyuk mendorong ekonomi desa. BUMDesa berada di bawah pemerintah desa.

Untuk memberdayakan pelaku ekonomi desa yang banyak/luas perlu pendekatan seperti: (1) pemberdayaan pelaku berbasis kelompok, (2) pengembangan lembaga koperasi.* (Risfan Munir)



Monday, December 26, 2016

Koperasi Serba Usaha Desa Pamogan

Koperasi Serba Usaha (KSU) Desa Pamogan, di Banjar Sakah, Kota Denpasar, Bali merupakan contoh baik dari keberhasilan upaya pengembangan koperasi desa (Kompas, 27-12-2017). Koperasi ini berhasil revival, bangun kembali, dari anggotanya yang tinggal 20 orang berkembang menjadi sekitar 2000 orang. Dari kas yang tersisa Rp 4 juta, menjadi sekitar Rp 67 miliar.

Kunci keberhasilannya, pertama, ialah peran kepemimpinan, dalam hal ini Bapak I Dewa Bagus Putu Budha. kepemimpinan dan ketekunan mantan kepala dusun, dalam meningkatkan keasadaran masyarakat desa tentang nilai-nilai positif koperasi, dan mengelola koperasi tersebut secara profesional. Kedua, pendekatan persuasif yang tidak pantang menyerah dalam merubah pandangan masyarakat akan koperasi, yang sebelumnya telah luntur.

Saat ini, Koperasi Serba Usaha Desa Pamogan dapat dikatakan telah mandisi dan berkelanjutan (sustainable). Untuk melayani keutuhan anggota yang sebarannya luas, KSU Desa Pamogan telah dapat mempekerjakan karyawan sebanyak 48 orang, dengan gaji di atas upah minimum regional.

Dengan keberhasilan tersebut KSU Desa Pamogan mendapat aneka penghargaan sebagai koperasi terbaik se-Indonesia pada 1999, 2007, dan 2015. Dan, bapak I Dewa Bagus Putu Budha mendapat penghargaan Satyalencana Wira Karya. (Sumber: Kompas, 27-12-2017)

[Risfan Munir]